Postingan

OPTIMISTIC PARENTING

*** “Bi, memangnya berkeluarga semenakutkan itu ya? Kok serem-serem yang dialami peserta?” tanya Si Teteh beberapa waktu lalu.  “Peserta apa, Teh?” Saya balik tanya.  “Itu, di acara kemarin. Aku kan ikut masuk karena dampingi umi. Ikut foto-foto. Jadinya ikut denger,” jawabnya.  Walaupun latar belakang dan tujuan acaranya sangat bagus, tapi rasanya memang ada yang mengganjal. Buktinya anak saya jadi punya kekhawatiran kalau nanti menikah akan mengalami hal yang sama. “Jangan-jangan suami Teteh ntar kayak gitu, Bi…?” katanya lagi.  Saya jadi merasa bersalah sudah memintanya ikut dampingi uminya. Walaupun kemudian bisa dijelaskan duduk persoalannya.  Semaraknya kajian dan seminar dengan tema-tema yang menyodorkan problem solving memang berhasil mendapat respon peserta yang tinggi. Majelis curhat diminati banyak orang. Tema selingkuh sepertinya yang paling menguras emosi. Potongan video curhat hilir mudik mampir di medsos. Karena fyp. Semakin ekstrim semakin viral....

NYANYI SUNYI DI BATAS NEGERI

Gambar
Pajak itu ibarat sayuran hijau di menu anak-anak. Semua tahu pentingnya, tapi jarang yang mau menyantapnya. Kalau saya menulis pajak, apakah ada yang membaca? Tetapi karena gagasan besarnya tentang misteri tax rati o yang stagnan selama dua dekade terakhir, rasanya saya harus menulisnya. Karena inilah salah satu pertanyaan terbesar para insan pajak, pengamat ekonomi, dan pengambil kebijakan. Tax Ratio kita seperti terkena kutukan. Terkunci di kisaran 10% saja.  Ceritanya, ada dorongan menulis lagi sejak awal tahun 2025. Kali ini temanya bergeser dari tema parenting yang selama ini penulis angkat. Pemicunya justru berupa ide-ide ringan yang muncul ketika bergulat dengan angka, SOP, dan beragam karakter Wajib Pajak—dari yang patuh seperti prajurit hingga yang lincah seperti penari balet. Guyonan antar rekan kerja, ledekan halus, atau obrolan santai itu rupanya bisa dirangkai menjadi tulisan yang segar.  Hobi menulis itu memang ajaib. Niat menulisnya sendiri seperti jaring laba-l...

AYAH FISKUS

Gambar
Hari pertama 2026. Sejenak jeda dari rutinitas. Memulainya dengan segelas Wedang Uwuh panas di café yang baru pertama kali dikunjungi. Di Sentul wilayah perbukitan. Tepatnya di Kopi Koneng, yang k alau jalan terus kita akan sampai ke Puncak.  Malam sebelumnya suasana pergantian tahun tidak terasa. Karena tengah terkantuk-kantuk digendong bis Damri. Menyusuri jalur trans Kalimantan rute Sintang - Pontianak. Persis 10 jam. Berangkat pukul lima sore, tiba di pool Damri sudah tahun baru. Suasana Subuh kota Pontianak terasa lengang, dingin dan basah. Rupanya pesta tahun baru hanya sampai tengah malam. Setelah itu ambyar diguyur hujan.  Dari pool Damri disambung mobil carteran. Bertiga sesama AR yang pulkam. Kang Nana dan Kang Meiqi yang urang Sukabumi. Mengejar jadwal pesawat pukul 06.20. Rute paling pagi Bandara Supadio ke Soetta. Sekitar pukul delapan Super Air Jet pun mendarat tepat waktu.   Kali ini dijemput ramai-ramai ke bandara.  Biasanya berangkat sendiri. P...

MATA RANTAI TERLEMAH

Kita awali dari ungkapan seorang filsuf dari Skotlandia, Thomas Reid yang berkata: “The strength of a chain is measured by its weakest link.” Bahwa kekuatan rantai diukur dari mata rantai terlemahnya. Inilah kalimat yang wajib dipahami oleh siapa saja yang bekerja dalam tim atau berorganisasi. Pun ketika bicara organisasi sebesar DJP.  Data tahun 2024 menunjukkan, dari total 44.137 pegawai DJP, terdapat 11.076 Account Representative (AR), Pemeriksa berjumlah 5.574 orang, dan Penyuluh 2.255 orang. AR sendiri terbagi menjadi dua: AR Strategis sebanyak 2.336 orang dan AR Wilayah sebanyak 8.740 orang. Reformasi perpajakan yang dijalankan oleh DJP pada dasarnya upaya terus menerus untuk menguatkan seluruh mata rantai fungsi-fungsi di atas. Di titik inilah muncul pertanyaan terbesarnya: Siapakah mata rantai terlemah di DJP? Mari kita telaah satu per satu. Pemeriksaan? Populasinya 12,63%. Pedoman kerja jelas, status fungsional, prestise tinggi sebagai ahli penegakan hukum. Selain itu...

LHPt ADALAH KOENTJI

Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" - t ulisan #3 ___________________________________________   “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.” — Albert Einstein   *** Memandang layar Mandor, ada rasa kesal. warna kuning pada time manajemen terlalu banyak. Saya dianggap tidak efisien waktu. Dokumen ini adalah rutinitas para AR. Dari proses pengawasan Wajib Pajak, ada satu tahapan yang krusial : pembuatan dokumen Laporan Hasil Penelitian (LHPt). Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi argumen, jembatan dialog, dan jangkar profesionalisme. Karena ketika LHPt kuat, proses berikutnya menjadi ringan. Ketika LHPt rapuh, seluruh tahapan setelahnya ikut goyah. Bila seluruh proses pengawasan diibaratkan terapi akupunktur, maka LHPt adalah titik tempat jarum ditusuk. Jarum yang tepat di titik ini akan mampu memulihkan keseluruhan sistem. “God is in the details.” — Ludwig Mies van der Rohe Fakta Keseharian Tapi, karena dipicu aturan main ber...

MULAI DARI AKHIR

Bulan Agustus lalu, pada saat Forum Pengawasan, saya melaporkan progres salah satu Wajib Pajak : “Izin lapor, Pak. WP yang kemarin jawab SP2DK sudah setor Rp1,5 miliar plus pembetulan SPT,” kata saya. “Cepat sekali responsnya. Mantap, Pak!” kata Pak Sen, Kepala Kantor. “Tapi dengan respon seperti itu potensi tambahannya bisa jadi jauh lebih besar. Data yang diminta apa sudah dikasih semua, Pak?” lanjutnya. “Sudah, Pak. Banyak sekali.” jawab saya. “Kalau begitu, jangan ditutup dulu. Kita analisis lagi yang dalam,” tegasnya. “Siap, Pak!” jawab saya. Arahannya jelas. Perjalanan saya jadi belum bisa berakhir. Rekan-rekan saya ada yang berkomentar ramah. “Pak Sol, itu kerjaan satu tim pemeriksaan lho, apalagi tiga tahun pajak. Kalau dikerjain sendirian, DPP lain bisa-bisa kedodoran!” Saya hanya tersenyum kecut. “Ya bagaimana lagi. WP-nya sangat kooperatif. Semua data yang diminta diberikan lengkap. Mau tak mau harus diolah. Akhirnya jadi pengawasan rasa pemeriksaan.” jawab saya. Data yang ...

BUILD TRUST & BE A MENTOR

" Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results ."  (Rita Mae Brown)  *** “Pak Sol, ini kan kantor pelayanan, kenapa ada target penerimaan? apakah berarti kami ini ditarget atau bagaimana?” tanya seorang Wajib Pajak.  Tentu agak kaget ditanya seperti itu.  “Wah, pertanyaan filosofis ini. Sayapun kadang bertanya begitu. Tapi kalau WP dapat SP2DK itu bukan kita mengejar atau mentarget. Tapi mengklarifikasi data.” Saya jawab normatif. Tentu sambil membela institusi.  Ketika sudah akrab, kadang terlontar isi kepala WP yang sebelumnya terpendam. Pertanyaan di atas, spontan terucap di tengah-tengah diskusi tentang property investasi, yang rupanya akun barang jaminan yang diambil alih ketika debitur gagal bayar.  Walaupun diskusi sudah lewat, tapi diksi “mentarget kami” itu terus teringat. Hingga jadilah tulisan ini. Memang selalu ada keraguan, apakah membangun kedekatan  akan membuat petugas pajak tidak bisa tegas ...

SILO

  " The whole is greater than the sum of its parts .” — Aristotle *** Kamis sore awal Desember 2025, saya dipanggil mendadak. Diminta berkumpul di ruang rapat kecil di samping ruang Kepala Kantor. Letaknya di lantai 2. Kalau dipanggil mendadak begitu suka deg-degan. Ada salah apa saya?  Di ruangan sudah hadir Kepala Kantor, Kepala Seksi dan seorang AR – kawan saya. Di layar proyektor terpampang laporan keuangan salah satu Wajib Pajak.  Rupanya saya diminta memberi pandangan. Ikut berdiskusi. Mungkin, karena baru  menyelesaikan pengawasan Wajib Pajak dengan jenis usaha yang serupa, bahkan menggunakan konsultan yang sama. Hanya berbeda lokasi dan skala. Diskusi pun berjalan sebagaimana mestinya. Membahas laporan keuangan. Menelusuri di mana poin yang harus diklarifikasi. Di muaranya dihitung berapa potensi koreksi.  Dinamika di atas intensitasnya jauh meningkat tahun ini. Menjadi ruang berbagi pengetahuan. Pengalaman satu AR akan mempercepat pemahaman AR yang lain...

BUKAN SEKADAR ANGKA

Gambar
Saat awal bertugas di Sintang, awal tahun 2024 lalu. Sebagaimana normalnya di tempat baru, saya harus banyak melakukan " say hello " ke wajib pajak.  Pada satu obrolan perkenalan, saya pasang mode lepas. Saya biasa tertawa terbahak. Orang menyebutnya tertawa karir. Rupanya wajib pajak merasa senang. Karena bisa ikut tertawa lepas juga. Dari situlah mulai terjalin komunikasi yang terbuka. Belakangan,  ketika wajib pajak ini harus membayar kekurangan pajak setelah dikirim SP2DK, ternyata tetap bisa tertawa. Asal argumennya valid. Artinya keakraban tidak mengurangi profesionalisme.  Pada kesempatan lain ketika melakukan kunjungan ke wajib pajak di daerah Kabupaten Melawi. Menjelang akhir tahun 2024.  Ada insiden kecil. Dipicu komunikasi yang menurut mereka kurang tepat. Rupanya ada diantara yang hadir tersinggung. Rupanya ia  seorang Panglima Asap -- pemimpin ormas suku setempat, yang ikut terlibat dalam bisnis WP yang dikunjungi. Karena merasa punya day...

MUTASI YANG HUMANIS

Tahun 2026 adalah tahun ke lima penulis bertugas di Kalimantan. Dua tahun di Pontianak dan dua tahun di Sintang, hingga sekarang.  Di awal penempatan, sejak lulus STAN tahun 1995 hingga sebelas tahun kemudian, sempat merasakan atmosfir Jawa Timur. Di tiga kabupaten berbeda : Probolinggo, Jember dan Lumajang. Merasakan turbulensi saat reformasi DJP berubah dari "jahiliyah" menjadi modern.   Sejak 2006 hingga enam belas tahun berikutnya kembali menjadi warga Jawa Barat. Berkhidmat di beberapa kantor pelayanan pajak antara Karawang dan Bekasi.  Lalu, tiba saatnya mutasi ke Pontianak tahun 2021. Menjadi awal babak baru sebagai fiskus lintas pulau.  Bagi pegawai DJP mutasi adalah bagian penting dari perjalanan pengabdian. Ia membawa peluang baru untuk berkembang, belajar, dan memberikan kontribusi yang lebih luas di berbagai penjuru Indonesia.  Pimpinan sering menyampaikan bahwa penempatan di berbagai wilayah—termasuk luar Jawa—membuka pintu untuk pengalaman ber...